Berbuat Baik Sebelum 10 Detik

berbuat-baik-10-detik

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Al Zalzalah ayat 7-8)

Waktu itu sudah larut, tapi Bandung masih ramai dan agak tersendat ketika di lampu merah –agak macet. Saya duduk di kursi tengah bersama teman-teman, dan di depan, duduk Kang Irfan Amalee bersama sopir. Beliau adalah senior saya dan pendiri Peace Generation Indonesia, sebuah organisasi yang menyebarkan perdamaian melalui pendidikan. Barangkali di antara kawan-kawan pernah membaca karyanya. Hari itu kami baru saja pulang memenuhi undangan mengisi acara dari Jakarta. Sedang asyiknya ngobrol, tiba-tiba mobil di depan kami dengan entengnya membuang botol plastik dari jendela mobil. Sontak kami yang melihatnya marah dan sedikit memaki.

“Eh, itu! Buang sampah sembarangan!” teriak teman saya, Dimas, disusul dengan racauan dari teman yang lain. Mobil jadi agak berisik, Kang Irfan yang sedang tertidur pun bangun karena kegaduhan kami.

“Ada apa?” tanyanya.

“Itu Kang, mobil di depan buang sampah sembarangan!” jawab saya sambil menunjuk dengan dahi agak mengkerut.

Tanpa pikir panjang beliau turun dari mobilnya dan menghampiri sopir muda yang membuang sampah sembarangan itu. Diambilnya botol plastik itu seraya menyodorkan kembali kepada sang sopir muda.

“Ini, ada yang ketinggalan,” kata Kang Irfan sedikit tersenyum sambil memberikan botol plastik kepada sang pembuannya. Kami yang di mobil pun tepuk tangan, andai saja bisa tentunya kami akan standing applause, tapi tak bisa. Kang Irfan kembali ke dalam mobil kembali berkumpul lagi dengan kami yang gundah.

Bukan hanya itu, beliau juga pernah menegur ibu-ibu yang membuang sampah sembarangan dari mobil saat mobil melaju padahal di dalamnya ada anak-anak yang suatu saat akan meniru. Saya yakin, teguran-teguran itu akan melekat dan berkesan di pikiran orang yang ditegur.

***

Saya malu dengan beliau, kalaulah diukur mengenai keimanan, mungkin keimanan saya adalah selemah-lemahnya iman karena hanya bisa berdoa –bahkan hanya bisa mengumpat. Saya belum bisa merealisasikannya menjadi sebuah aksi. Maka sejak itulah, saya mulai untuk membuang sampah pada tempatnya –juga berbuat hal baik lain. Barangkali hal ini memang sederhana, tapi saya yakin hal ini berdampak sangat luar biasa dan dicatat olehNya sebagai sebuah kebaikan.

Saya teringat dengan perkataan Imam Al-Ghazali bahwa ada dua hal yang harus kita waspadai: pertama, meremehkan amal kecil. Kedua, meremehkan dosa kecil. Barangkali, kawanku, kita tak waspada dengan dua hal tersebut sehingga lambat laun yang kecil-kecil itu menumpuk –dan Allah menjanjikan akan membalasnya. Kalau sudah menumpuk, mau gimana coba? Kebayangkan balasannya gimana? Waspadalah!

So, dengan belajar pada ayat Al-Zalzalah di atas yang kebanyakan dari kita sudah hafal dengan suratnya, saya mengajak kepada temen-temen semua untuk berbuat baik dengan memulai dari hal terkecil. Misalnya: buang sampah ke tempatnya, mematikan listrik saat siang hari, membukakan pintu untuk orang lain, membawa air minum ke kelas agar bisa berbagi dengan teman-teman kelas dll. Sederhanakan? atau mungkin kawan-kawan punya ide lain? Silakan eksplorasi.

Kalau saya, selain contoh di atas, saya sedang membiasakan untuk tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada orang yang berinteraksi dengan saya. Salah satunya, tersenyum dan berterima kasih kepada sopir saat turun dari angkutan umum. Atau, saya juga bikin program memberi ongkos kepada orang yang duduk sekursi dengan saya di bis. Walau baru beberapa bulan terakhir dilakukan tapi alhamdulillah efeknya luar biasa: menyenangkan!

Nah, untuk kawan-kawan, saya ada tips nih untuk menebar kebaikan dan kasih sayang ini. Saya mendapatkannya dari buku 10 Seconds: Will Change Your Life Forever karya Bobby Petrocelli. Bahwa kebanyakan keputusan dibuat dalam jangka waktu hanya 10 detik, namun mereka memiliki dampak pada hidup Anda selamanya. Jadi, cara kerjanya gini: kalau ada orang yang membutuhkan pertolongan, atau apapun sesuatu yang menjadi lahan berbuat baik hadir di depan mata, segera lakukanlah! Berbuat baiklah saat 10 detik pertama. Jangan tunggu lama-lama, karena biasanya, kalau sudah lewat sepuluh detik pikiran kita suka berpikir yang tidak-tidak, memikirkan kemungkinan-kemungkinan sehingga perbuatan baik itu tak jadi dilakukan.

Barangkali, saat awal-awal kita hendak membiasakan berbuat baik –menegur yang buang sampah sembarangan misalnya, kita kan merasa takut. Takut dimarahi, takut diajak berantem dsb, ya, itu manusiawi. Tapi, cobalah, barangkali itu hanya prasangka saja, kita tak akan tahu apa yang akan terjadi kalau tidak dicoba, kan? So, sekali lagi, saya mengajak kawan-kawan untuk nyicil kebaikan, dan mengumpulkan ‘receh-receh’ kebaikan itu menjadi gundukan kebaikan yang bermilyaran. Saya yakin kebaikan itu akan memberi perubahan dan akan dibalas olehNya baik secara cash atau nanti dengan yang lebih menakjubkan. :) []

Irfan Nur Hakim | @IrfanNazhran

Comments are closed.