Budaya Lokal Ditengah Budaya Luar

budaya-lokal-budaya-luar

Budaya, atau kebudayaan, berasal dari bahasa Sansakerta buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi/akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris disebut culture yang diserap dari bahasa latin colere, yaitu mengolah atau mengerjakan, dan kemudian diserap kedalam bahasa Indonesia kultur. Bisa juga diartikan dengan mengolah tanah atau bertani. Budaya adalah suatu cara hidup yang dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya terbentuk dari banyak unsur yang bisa dikatakan rumit, melingkupi sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, bangunan, pakaian, karya seni dll. Indonesia sendiri, merupakan surga-nya budaya, ia memiliki lebih dari seratus kebudayaan yang telah tercatat dan berlangsung sejak dahulu di masyarakatnya. Namun akhir-akhir ini agaknya Indonesia disibukkan dengan pertarungan melawan budaya luar yang tidak dapat dipungkiri sedang melakukan “agresi besar-besaran” terhadap budaya lokal, dan budaya lokal pun tidak dapat dipungkiri kian hari, kian terkikis oleh budaya luar, dalam artian kecenderungan minat dan kesenangannya, bisa dilihat dari euphoria masyarakat Indonesia yang gandrung dengan budaya luar.

Demam korea contohnya, mulai dari film serial yang tayang tiap hari di stasiun televisi, gaya rambut, baju, sampai musik dan tren boyband dan girlband-nya. Anda mungkin salah satu penggemar drama, boyband dan segala sesuatu yang berbau korea. Saya pun salah satunya, meskipun yang saya suka cuma film-nya dan cuma satu judul film, “Full House”.

Lanjut ke pembahasan, tak terbantahkan memang kalau karya-karya mereka, orang-orang korea di dunia Industri dan tren fashion terbilang keren dan patut diacungi dua jempol. Buat para penggemar boyband dan girlband khususnya, mungkin banyak yang berpendapat tren serba korea ini bagus buat Indonesia, karena bisa membantu mengembangkan kreativitas orang-orang dengan membentuk band-band “seperti itu”, dan mengikuti tren fashion keren “seperti ini”. Tapi menurut saya, ini tidak lebih daripada gambaran tentang ketidak-kreatifan masyarakat, dan gambaran tentang negara pengekor yang nyata, yang hanya bisa mengikuti apa yang menjadi trendsetter dunia saat ini, bukan gambaran negara yang bisa menjadi trendsetter yang banyak ditiru pola budaya dan gayanya oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Yang harusnya kita khawatirkan adalah Indonesia yang kaya akan beragam budaya ini sedikit demi sedikit budaya lokal-nya tergerus habis oleh budaya luar.

Budaya adalah ciri khas dari suatu negara atau daerah yang kemudian menjadi Identitas yang membedakan suatu negara/daerah tersebut dengan negara/daerah lainnya. Berangkat dari pemahaman tersebut, maka seharusnya kita mampu menjadikan budaya sebagai filter untuk menyaring asap-asap modernisasi, bukan malah membiarkannya menutupi atau bahkan menghilangkan identitas bangsa kita sebagai bangsa yang kaya akan ragam budaya.

Berangkat dari pemahaman tersebut pula, bila hari ini masih banyak orang-orang kita yang meniru gaya-gaya membentuk boyband dan sebagainya, meskipun bahasa lirik-nya berbeda, tapi gaya menari, kostum dsb masih terlihat sama persis secara fisik dengan boyband di korea atau negara lainnya, saya suguhkan pertanyaan kepada pembaca “Apa saat ini kita sudah merdeka?” . Ya!! Jawabannya, saat ini kita masih dijajah oleh korea dan negara lain yang mendominasi tren dunia yang menggusur budaya lokal kita. Dan jika seperti itu adanya, maka buang pancasila!! Buang jargon bhineka tunggal ika!!, dan ganti dengan satu kesatuan budaya luar, budaya yang saat ini sedang menggoyang budaya lokal, bahkan bila perlu ganti nama negara kita jadi nama negara yang sekarang menjajah kita dengan kebudayaan dan tren-nya!

Mungkin ada bagusnya jika menggagas suatu ke-kreatifan dengan mengusung gaya yang berbeda. Seperti grup musik Hiphop asal jogja, Jogja Hiphop Foundation, yang mengusung Hiphop dengan lirik berbahasa jawa, mengutip dari kitab Serat Centhini, berpakaian batik ketika menggelar konser yang menambah ciri khas ke jawa-an-nya. Sehingga meskipun yang disuguhkan adalah karya seni yang diadopsi dari luar, namun kesan kedaerahan dan kekreatifannya tetap ada. Atau grup tari jebolan ajang pencarian bakat Rumingkang yang mengangkat seni tari daerah dengan diberi sedikit tambahan modern dance sebagai pemanis, atau juga Karinding Attack yang mengusung musik underground dengan iringan karinding dan perkusi tradisional khas sunda.

Pada dasarnya, terserah bagaimanapun bentuknya, “asalkan tidak melepaskan unsur budaya dan kearifan lokal”, baik dalam suguhan seni,tren fashion dll yang berbau modern patut kita apresiasi, dan kita banggakan sebagai satu nilai identitas bangsa kita. Maka dari itu, mulai saat ini mari kita mulai melestarikan mengakui dan membanggakan budaya lokal yang kita miliki, jangan tunggu orang atau bangsa lain mengakui satu persatu apa yang notabene menjadi milik kita sejak awal. | 1211301042

Comments are closed.