Menulis Itu ringan

Menulis Itu Ringan

Jika ingin ringan, memang harus dilakukan dengan bekerja sama. Dari itu pula, saya punya contoh yang menarik, misalnya semut yang tubuhnya kecil, untuk membawa sisa kue di lantai, mereka bekerja sama membawa sisa makanan itu ke sarangnya. Bergerombol membentuk jalan hingga sampai tujuan: mengamankan makanan. Bisa jadi, kita punya meme seperti ini, “Masa semut aja bergandengan kita enggak.” Begitulah nuansa banyol untuk kita yang selalu ingin sendirian dalam hidup termasuk menulis.

Sebenarnya, saya ingin curhat saja soal menulis yang kadang membuat semua orang merasa jengkel. Setidaknya, pertama, kita tidak bisa menulis di tengah banjirnya informasi. Kedua, banyak ide yang tidak bisa dituliskan. Ketiga, kesibukan membuat kita lupa untuk menulis.

Menulis itu ringan. Sudah, katakan saja mantra itu. Dengan keyakinan yang teguh, kita akan menggapainya. Begini, pepatah lama yang saya kutipkan dalam tulisan ini dapat membantu untuk kita bisa menulis, taruhlah setiap hari satu tulisan. Bebas. Apa saja. Kamu tinggal memilih bentuk dan genrenya. Toh yang akan menuliskan kamu, bukan saya—just kidding.

Sekali lagi, menulis ringan itu artinya tidak berat. Ya, layaknya makanan ringan yang ada di warung atau supermarket. Mungkin makanan berat itu seperti batu, kerikil dan sebagainya.

Nah, saya punya tips untuk menulis ringan:

Pertama. Kendalanya tidak bisa menulis di tengah banjirnya informasi.

Mengatasi ini mudah sekali. Jika kamu ingin menulis sebuah opini atau fiksi, kamu harus fokus pada satu kasus atau fenomena sosial yang terjadi. Misalnya, kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), mahalnya beras, galaunya pemerintahan Jokowi, maraknya begal, pesona batu akik dan lain sebagainya. Nah, dari beberapa fenomena sosial itu, silakan pilih yang menurut kamu bisa sesuai dengan keilmuan, kesukaan (minat) atau kebutuhan. Pilih saja, kemudian tulis.

Banjirnya informasi kadang membuat gagal fokus, namun kita bisa mengambil satu titik dari sekian banyak titik untuk fokus.

Kedua. Banyak ide yang tidak bisa dituliskan.

Gejala ini memang bisa dihidap oleh siapa saja. Terkadang, ide muncul ketika imajinasi kita memikirkan sesuatu. Misalnya, ketika kamu mau berangkat ke sekolah, kampus dan tempat bekerja. Saya hanya menyarankan jika seketika kita punya ide, coba tulis dalam kertas selembar atau dalam telepon genggam. Alasanya sederhana, agar tidak lupa. Dengan demikian, setiap ada ide, ketika kamu mencatatnya pasti akan bisa dibacanya kembali. Misalnya, seharian ini kamu dapat ide tentang apa saja sebanyak lima. Nah, itu kan tinggal dipilih untuk dijadikan tulisan. Untuk artikel, bisa mencari data, referensi dan teori agar tulisanmu agak ilmiah dikitlah. Untuk fiksi, kamu bisa mencobanya dengan membuat latar peristiwa, penokohan dan seterusnya.

Banyaknya ide bukan hambatan untuk menulis, justru ide adalah sumber dari setiap tulisan. Jadi, yang kita butuhkan hanya mencatat, memilah dan menuliskannya.

Ketiga. Kesibukan membuat lupa. 

Sibuk, iya kamu, aku juga selalu sibuk. Tapi, kita bisa membuat jadwal kan di papan tulis di kamar? Boleh saja. Taruhlah, kita harus keras kepala untuk menulis barang dua lembar atau sepuluh lembar. Meluangkan waktu satu atau dua jam masih bisa kan? Nah, saranku begitu, jika kesibukan membuat kita lupa. Begini saja, deh, kamu pasti punya handphone kan?  Iya, jadwalkan saja di telponmu itu, misalnya jam 20.00 bel berbunyi, “Saatnya menulis,” misalnya, itu keren kan. “Jadwal membaca,” dering bel di sandekmu berbunyi. Nah, fungsi bel, lonceng, alarm adalah untuk mengingatkan kita agar tidak lupa. Jika kendala kita kesibukan, maka kita diperkenankan untuk menyela kesibukan itu. Sela saja seperti interupsi di tengah rapat. Bel seperti halnya lenganmu yang ngacung ke atas seraya mengingatkan.

Oia, jika semua hal yang saya sebutkan sudah kamu lakukan. Maka, yang paling penting adalah prinsip kerja sama. Dalam pendidikan, ada metode collaboratif learning, artinya bekerja sama. Dari kerja sama, beban akan terasa ringan. Caranya? Coba saja akrabi peralatan menulis; buku, pensil, potlot, notebook, laptop dan komputer. Ini ide gila saja. Ajak mereka berbicara atau kamu bisa berbisik. “Heh, bantu aku menulis yah, agar konsisten”. Jadikan benda-benda itu hidup dan bekerja sama dengan tubuh dan pikiranmu, agar berat sama dijinjing, ringan sama dipikul. Dari semua itu, bolehlah kita melihat sisi lain menulis adalah menghidupkan benda mati.

Coba saja.

Tips ini saya tulis setelah diskusi sore bersama mahasiswa Ahwal Syakhsiyah bidang Pers Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD, Bandung. Jumat 6 Maret 2015. [] | Pungkit Wijaya

Comments are closed.