Refleksi Intelektualitas Gerakan Mahasiswa

gerakan-mahasiswa

Pernahkah anda mengetahui, bahwa hal yang paling ditakuti Napoleon Bonaparte seorang penjelajah, pimpinan pasukan perang, sekaligus kaisar perancis yang termahsyur hanyalah secarik kertas berisi tulisan-tulisan yang dapat mempengaruhi semangat perjuangan dan pergerakan rakyat daripada beratus bala tentara yang berdiri tegap dengan peralatan perang lengkap?

Ya, bukan suatu hal yang tidak wajar karena memang ketakutan tersebut merupakan cerminan ketakutan nyata dari sebuah tulisan yang mampu mengubah arah perubahan bangsa menuju peradaban yang lebih baik. “Menulis untuk melawan” bukan hanya jargon tentang tren peradaban, namun juga merupakan suatu bentuk penuangan idealisme dalam secarik kertas sebagai modal awal untuk bergerak dan berubah. Hari ini, Mahasiswa dihadapkan dengan kondisi-kondisi dimana mereka harus melawan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat yang dibungkus oleh kekuatan ekonomi, politik, dimana kekuatan tersebut berhasil memproduksi begitu banyak telur busuk berbau kemiskinan, korupsi dll.

Turun ke jalan dan meneriaki para produsen telur busuk tersebut bukanlah satu-satunya cara untuk menghadapi situasi, dan kondisi yang semakin tidak memungkinkan untuk memberikan toleransi terhadap ketimpangan yang terjadi. Maka gerakan secara elit merupakan bentuk perjuangan yang setidaknya dapat disadari sebagai salah satu jawaban atas tantangan zaman ini, dimana para produsen telur busuk tersebut kian cerdik, serta memiliki mesin-mesin canggih dan pekerja-pekerja yang dibayar untuk mengalihkan perhatian Mahasiswa.

Jatuhnya Soekarno, runtuhnya Soeharto mencatat bahwa gerakan mahasiswa mampu memberi efek kejut terhadap kezaliman para penguasa. Dan itu bukanlah suatu keanehan karena membangun realitas baru memang tugas seorang mahasiswa sebagai wujud penjelmaan dan pengamalan dari salah satu poin tri darma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Karena memang di belahan dunia manapun, benteng masyarakat adalah mahasiswa yang merupakan perpanjangan lidah dan aspirasi yang sebenarnya, bukan para dewan parlemen yang hanya bisa duduk dan diam mengarahkan pena mereka sesuai kepentingan yang telah dibidik dan di setting sejak awal. Lalu, kiranya berbentuk seperti apakah kekuatan elit yang mampu membangun kekuatan masif mahasiswa bersama rakyat selain dengan aksi turun ke jalan?

Menulis adalah jawabannya karena menulis mampu menghubungkan idealisme dan realitas gerakan mahasiswa yang bukan suatu hal yang mustahil mampu mempengaruhi semangat perjuangan untuk melawan tirani. Berbagai alasan pun menyertai pernyataan tersebut. Pertama, motivasi gerakan mahasiswa yang paling utama adalah panggilan nurani bukan panggilan kepentingan yang sama sekali tidak mencerminkan roh perjuangan mahasiswa Menulis adalah bagian dari panggilan nurani. Kedua, kekuatan diri mahasiswa yang menjadi cermin pembeda adalah mereka memiliki sifat intelektualitas dalam berpikir.

Intelektualitas inilah yang menjadi dasar kuat untuk membangun kekuatan masif bersama rakyat. Intelektualitas disini berarti bahwa mahasiswa adalah makhluk ilmiah yang mampu dan harus sanggup merepresentasikan keilmiahanya dengan cara menulis. Karena menulis itu bagaikan bunga, yang setiap hari harus disirami agar tumbuh sebagai semanga perlawanan. Ketiga, dalam perang opini, menulis adalah senjata yang paling ampuh dan bisa dikatakan elit. Dan menulis diharapkan sejalan dengan perjuangan turun kejalan yang mampu menjadi katalisator penting bagi penciptaan gerakan rakyat untuk kondisi yang lebih baik.

Di akhir tulisan ini, saya mencoba mengajak pembaca sekalian untuk mencoba merenungkan dan mengingat para penulis hebat bangsa ini. Dimana walaupun mereka dalam kondisi tertekan, jiwa mereka tetap hidup untuk merefleksikan protes mereka dengan senjata apa adanya, tinta dan kertas. Sesuatu yang sebenarnya ketika masa penjajahan, orde baru masih bisa dibilang sangat sulit untuk didapatkan, ketika ada media tersebut pun kebebasan untuk menuangkan aspirasi serta menggerakkan roda perjuangan melalui tulisan masih dibatasi sekiranya ada tulisan yang mengkritisi sistem pemerintahan dan pemerintah itu sendiri maka si penulis akan diculik, diasingkan ke pulau yang sedikit penghuninya bahkan tidak ada penghuninya sama sekali,dan bukan tidak mungkin dibunuh dengan alih-alih untuk mengamankan kekuasaan pemerintahan pada masa itu. Namun di masa sekarang saya rasa tinta dan kertas merupakan media perjuangan yang paling murah dan mudah didapatkan untuk merubah kondisi negara yang semakin semrawut dan kebebasan berpendapat pun dijamin keamanannya dan telah diatur dalam UU No 9 tahun 1989. Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, dll, bisa dibayangkan seandainya saja mereka tidak menulis, kita tidak akan banyak tahu sejauh mana pemikiran masa lalu berjalan.

Maka dari itu, budayakanlah menulis di kalangan mahasiswa, bahkan akan lebih baik bila mulai menulis sejak usia dini. Mulailah dari tulisan yang sederhana. Berlanjut ke tulisan yang lebih panjang dan lebih bermutu. Yakinlah bahwa semua orang mampu menciptakan sebuah karya. Karya untuk perubahan dan merefleksikan mimpi-mimpi para pendiri bangsa ini. Karena menulis adalah bagian dari perjuangan, melawan dan menggerakkan.|1211301042

Comments are closed.