RUU Jabatan Hakim Peluang dan Tantangannya Bagi Pendidikan Tinggi Hukum

Oleh: Ramdani Wahyu Sururie[1]

  1. Pendahuluan

Jika seseorang bersengketa ke pengadilan, maka nasibnya tergantung dari palu seorang hakim. Dalam sistem peradilan di Indonesia, posisi hakim demikian sentralnya karena ditagannyalah hidup mati seseorang ditentukan. Demikian pula dalam hukum Islam. Kedudukan seorang hakim dalam hukum Islam begitu mulia dan sekaligus begitu berat tugas yang diembannya. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam al-Fat-h (XIII/146), “Berkata Abu „Ali al-Karabisi, pengikut Imam asy-Syafi‟i dalam kitabnya Aadaab al-Qadhaa’ berkata, „Aku tidak melihat adanya khilaf di kalangan ulama salaf bahwa orang yang paling pantas menjadi hakim bagi kaum muslimin adalah orang yang jelas keutamaannya, kejujurannya, ilmunya, dan kewara‟annya. Ia seorang pembaca (penghafal) al-Qur-an sekaligus mengetahui banyak hukum-hukumnya. Mempunyai pengetahuan tentang sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan perkataan para sahabat serta banyak menghafalnya. Mengetahui kesepakatan, perselisihan, dan perkataan-perkataan ahli fiqih dari kalangan tabi‟in. Mengetahui mana yang shahih dan yang cacat (lemah). Memecahkan persoalan nawazil (terkini) dengan al-Qur-an. Apabila ia tidak mendapatkan di dalamnya, maka dengan as-Sunnah, bila tidak ada ia menggunakan apa yang para sahabat telah bersepakat atasnya. Apabila ia dapatkan sahabat berselisih dalam hal itu dan tidak ada kejadian serupa dalam al-Qur-an maupun as-Sunnah, maka ia menggunakan fatwa pembesar sahabat yang telah diamalkan. Hendaknya ia pun banyak belajar (mudzakarah) dan musyawarah dengan penuh adab dan kesopanan bersama para ulama. Menjaga lisan, perut, dan kemaluannya. Bisa memahami perkataan orang-orang yang menentangnya, kemudian ia harus tenang dan menjauhi hawa nafsu.‟[2]

[1] Dosen Matakuliah Putusan Pengadilan dan Hukum Alternatif Penyelesaian Sengketa. Makalah Diskusi Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung, 22 September 2016

[2] Syaikh Abdul Adhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, pada bab Kitab Peradilan. Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007 M. Bandingkan dengan Sofia Hardani, Kode Etik Hakim Dalam Islam. Jurnal Hukum Islam. Vol. 12 No. 10. September 2005. Hlm 82-83.

Untuk lebih lengkap klik disini

Comments are closed.