Dina Farida Berbagi Pengalaman Student Exchange Di Malaysia

Pada tahun 2018 lalu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) bekerjasama dengan Global Partnership Association (GPA) melaksanakan program tahunannya yaitu student exchange yang keempat. Salahsatu mahasiswa Hukum Keluarga, Dina Farida berhasil lolos dan mengikuti kegiatan pertukaran pelajar tersebut ke University of Malaya (UM).


Berbeda dengan kebijakan tahun sebelumnya yang hanya dapat diikuti oleh mahasiswa FISIP saja, pada tahun keempat kemarin, program pertukaran pelajar tersebut dapat diikuti oleh semua mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dengan beberapa tahap seleksi yang harus dilalui oleh calon peserta, Dina berhasil lolos dan terpilih menjadi peserta student exchange.


Menurut Dina, ada beberapa seleksi yang harus dilalui antara lain seleksi administrasi, essay on the spot, focus group discussion, interview dan tes baca Al-Quran. Calon yang mendaftar saat itu kurang lebih mencapai seratus orang dan yang terpilih menjadi peserta pertukaran pelajar hanya 30 orang. “kebijakan student exchange, bukan sembarang orang yang bisa ikut exchange, ya karena ada seleksi itu makanya dipilihlah orang-orang yang mungkin beruntung ataupun dia berbakat dibidangnya,” jelasnya (29/11/2019)


Pengalaman Dina selama mengikuti pertukaran pelajar sangat banyak sekali yang menarik untuk diceritakan. Kesan perkuliahan selama di sana, Dina mengamati banyak sekali mahasiswa internasional, karena memang semua kelas di sana merupakan kelas internasional dan juga mahasiswa di sana termasuk mahasiswa yang tepat waktu.


“Mahasiswa-mahasiswa di sana tuh in time udah bukan on time, jadi 30 menit sebelumnya udah dateng ke kelas dan menyiapkan bahan yang akan didiskusikan di kelas,” papar Dina.


Ia juga menceritakan bagaimana pengalaman selama ia mengikuti kelas di UM, salah satunya mengenai sistem perkuliahan disana. Ada banyak perbedaan sistem, menurut Dina, UM menerapkan sistem pendidikan yang dianut oleh Finlandia. Di UM menerapkan sistem kelas tutorial dan kelas seminar. Untuk kelas tutorial sendiri, dalam satu kelas terdiri dari sepuluh sampai dua puluh orang. Dina sempat masuk merasakan sistem perkuliahan keduanya.


Yang menarik, pada sistem perkuliahan tutorial, dosen yang mengajar pada setiap pertemuan sering memberikan sesuatu untuk mahasiswanya. “Kebetulan di sana tuh beda banget jadi setiap masuk tuh dosennya ngasih sesuatu untuk anak-anaknya itu di kelas tutorial, soalnya anak-anaknya juga cuma sepuluh sampai dua puluh orang, pertama dikasih pizza, pertemuan keduanya dikasih coklat, pertemuan selanjutnya dikasih makan, emang pensyarahnya (dosennya-red) suka ngasih dari dulu juga,” jelasnya.


Berbeda dengan sistem tutorial, untuk perkuliahan pada sistem seminar dapat diikuti sampai seratus orang lebih. Menurut Dina, ruangan yang dipakai seperti bioskop, dengan adanya layar yang besar dan ruangan yang besar. “Kelas seminar itu kaya dibioskop, asli itu kaya di bioskop, dan itu bisa 100 orang tuh,” tuturnya.


Untuk Dina sendiri, pengalaman yang paling berkesan itu ketika ia bertemu pensyarah yang baik hati, “yang paling berkesan itu, kaya lagi temen-temen belum keliling Kuala Lumpur, dan Saya alhamdulillah ketemu sama pensyarah yang baik banget, kita tuh udah diajakin keliling KL duluan, ditraktir lunch, nyampe kita tuh dikenalin sama keluarganya.”


Dina juga menyampaikan bahwa jika memiliki sesuatu yang diinginkan, keinginan itu harus dikejar dan juga diiringi dengan doa. “Jadi buat temen-temen nantinya kita tidak pernah mendapat apa yg kita inginkan kalau kita tidak mengejarnya, tapi tetep kita mengejarnya. Selain usaha kita harus berdoa,” pungkasnya.