Disparitas Putusan Hakim Dalam Perkara Perceraian

Pendahuluan

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang mengkaji dua putusan hakim Pengadilan Agama yang terdiri dari putusan Pengadilan Agama tingkat pertama dan putusan Pengadilan Tinggi Agama dalam perkara perceraian dengan alasan antara suami isteri terjadi perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus dan tidak ada harapan untuk hidup rukun kembali sebagai suami isteri dalam rumah tangga. Putusan hakim pengadilan agama dan tingkat banding menarik untuk diteliti disebabkan beberapa faktor, yaitu :

  1. Putusan hakim Pengadilan Agama mengenai perceraian dengan alasan Pasal 19 huruf (f) PP Nomor 9 Tahun 1975 yaitu antara suami dan isteri terjadi perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus dan tidak ada harapan untuk hidup rukun kembali sebagai suami isteri dalam rumah tangga diputuskan oleh hakim tingkat pertama dan tingkat banding dengan cara disparitas, yaitu ditolak pada tingkat pertama tetapi di tingkat banding dikabulkan;

  2. Disparitas dalam putusan hakim tersebut merupakan putusan tentang sengketa perceraian yang dasar hukumnya sama yaitu menggunakan pasal 39 ayat (2) Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo pasal 116 huruf f Kompilasi Hukum Islam. Sekalipun pasalnya sama, majelis hakim berkesimpulan melalui amar putsannya berbeda-beda antara pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding. Disparitas (perbedaan) ini menunjukkan bahwa hakim di dalam menjatuhkan putusan sekalipun kasus dan hukumnya sama dapat menyebabkan terjadinya perbedaan sehingga perlu dicarikan jawaban atas dasar apa disparitas putusan hakim itu terjadi.

Download Jurnal Lengkap

Comments are closed.